Arsip | Juni, 2013

Undangan Seleksi Wawancara TAPP PLPBK Desa Tangkil Kulon

12 Jun

Kepada
Yth. Calon Tenaga Ahli Tim Perencanaan dan Pemasaran Wilayah
Program PLPBK Desa Tangkil Kulon Kecamatan Kedungwuni Kab. Pekalongan
di Tempat
Dengan Hormat,

Dengan ini kami beritahukan bahwa Anda telah dinyatakan lolos seleksi administrasi
Tim Seleksi TAPP PLPBK Desa Tangkil Kulon, selanjutnya kami mengundang Anda untuk
mengikuti seleksi wawancara dan paparan pada :

Hari, tanggal : Jum’at, 14 Juni 2013
Waktu : Pukul 14.00 WIB – Selesai
Tempat : Balai Desa Tangkil Kulon Kec. Kedungwuni Kab. Pekalongan
Arah Angkutan : Dari Terminal Bis Pekalongan, naik bis jurusan kajen, turun di
Pasar Pekajangan (Babrik), naik becak ke Balai Desa Tangkil Kulon) atau Dari
Stasiun Kereta Pekalongan, naik angkot jurusan Kedungwuni, turun di Pasar
Pekajangan (Babrik) naik becak ke Balai Desa TAngkil Kulon (atau bisa dilihat di
google maps)

Adapun peralatan dan perlengkapan yang harus Anda siapkan adalah, berkas lamaran
(bagi pelamar via email), laptop, kamera.

Sesi wawancara dibagi dalam dua sesi, yaitu
1. sesi pertama Pukul 14.00 – 14.30 WIB pemeriksaan kelengkapan aplikasi lamaran
Pukul 14.30 – 16.00 WIB wawancara
Pukul 16.00 – 17.30 WIB orientasi lapangan
2. sesi kedua Pukul 18.30 – 20.00 WIB pembuatan materi presentasi orientasi
lapangan
Pukul 20.00 – 22.00 WIB Presentasi Orientasi Lapangan

Bagi peserta dari luar kota disediakan penginapan oleh panitia (gratis), ataupun
bisa menginap di hotel dengan biaya ditanggung peserta.

Demikianlah, atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih.

Panitia Seleksi TAPP PLPBK Desa Tangkil Kulon,

Buono
Koordinator

MEMBOYONG PUTRI KERATON YOGYA SEBAGAI DAYA TARIK INVESTOR

8 Jun

Siang yang terik di Kelurahan Karangwaru, Sleman-Yogyakarta tidak menyurutkan langkah pewarta komunitas, Buono, untuk menyusuri aliran kali buntung yang sekarang berubah menjadi Karangwaru Sideriver, Jum’at 7 Juni 2013 lalu. Kali Buntung yang dahulunya kotor, kumuh dan angker kini berubah 108 derajat menjadi asri indah dan enak untuk tempat nongkrong. Kali sepanjang 126 meter tersebut di kanan dan kiri bantarannya dijadikan arena bermanin, gazebo, ruang informasi dan riverwalkGambar

            Berawal dari Program Penataan Lingkungan Permukiman Berbasis Komunitas (PLPBK)   yang digunakan untuk membenahi kali Buntung yang membelah kelurahan tersebut, kini sungai yang biasanya dijadikan sebagai ruang belakang rumah menjadi ruang depan. Untuk menarik infestor dalam mengembangkan Karangwaru Riverside, BKM Karangwaru menggandeng putri Sultan Hamengku Buwono IX dengan menggelar Taklshow di lokasi tersebut. Hasilnya, animo investor sangat besar, bahkan investor dari Jakarta pun ikut berpartisipasi dalam pengembangan wilayah tersebut. Kini Karangwaru Riverside menjadi destinasi wisata global di Yogyakarta.

 Gambar

    Gambar

   Mewujudkan semua impian warga Karangwaru tidaklah semudah membalikkan tangan. Awalnya banyak warga yang menolak untuk menyisihkan sebagian tanahnya untuk digunakan mewujudkan karangwaru riverside, dengan kerja keras jajaran pemerintah kelurahan, LPMK, BKM dan relawan akhirnya impian itu terwujud juga. Tahun 2012 stage 1 mulai dilaksanakan, bantaran kali sepanjang 126 meter tersebut kini di kiri dan kanannya sudah menjadi ikon wilayah kelurahan tersebut dengan dana PLPBK sebesar 1 miliar, dan BKM Karangwaru saat ini sedang membangun ruang terbuka hijau yang terletak di lapangan kelurahan tersebut. Kedepan akan dilakukan pembangunan Karangwaru riverside untuk stage 2 hingga stage 6 dengan biaya dari investor yang berlokasi di terusan kali Buntung dan kali Code.

TIGA BKM KAB. PEKALONGAN BELAJAR PENGELOLAAN SAMPAH MANDIRI KE YOGYAKARTA

8 Jun

Penanganan sampah secara swa-kelola yang dilakukan oleh warga Desa Sukunan, Sleman-Yogyakarta mendorong tiga Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) di Kabupaten Pekalongan untuk belajar langsung dari sumbernya. BKM Tunas Karya Mandiri Desa Tangkil Kulon, Kecamatan Kedungwuni Kabupaten Pekalongan bersama-sama dengan BKM Kemasan Kecamatan Bojong dan BKM Samborejo Kecamatan Tirto didampingi oleh Tim Teknis Program Penataan Lingkungan Permukiman Berbasis Komunitas (PLPBK) yang terdiri dari Konsultan Kabupaten (Korkot PNPM-MP Kab. Pekalongan) dan dinas terkait yang meliputi Dinas PU, Dirjen Cipta Karya dan PIP, Dinas Kesehatan, Dinas Pertanian, Dinas Indag, Dinas Lingkungan Hidup; Jum’at (7/6) kemarin mengadakan studi banding, guna mempelajari proses pengeloaan sampah yang dilakukan di desa tersebut.

 Gambar

Sampah yang selama ini kita anggap sebagai barang yang tidak berharga, menjadi rupiah bagi warga di desa Sukunan, mereka memilah sampah rumah tangga menjadi tiga bagian yakni sampah organik yang terdiri dari daun-daunan, limbah sayuran dan buah dan limbah rumah tangga lainnya sisa dari memasak; dan sampah non organik yang dipilah lagi menjadi dua yaitu plastik dan kaca. Sampah organik dimasukkan dalam tong dengan label sampah organik, dan sampah non organik dimasukkan dalam dua tong yang berbeda, yaitu plastik dan kaca. Kemudian tong sampah yang sudah di letakkan dengan jarak sepuluh rumah tersebut diangkut oleh petugas untuk diolah lebih lanjut. Sampah organik dibuat sebagai kompos atau pupuk organik sedangkan sampah yang non organik dipilah lagi sesuai dengan jenisnya. Untuk sampah dari plastik dan kaca/botol langsung dijual ke pengepul sedangkan sampah dari sisa potongan bahan pakaian dikumpulkan di rumah kain perca untuk dibuat aneka kerajinan seperti kesed, tas dan lain sebagainya. Disamping itu sampah plastik yang terbuat dari alumunium foil  yang tidak laku untuk dijual dibawa ke rumah kerajinan tas yang dikelola oleh kader lingkungan di desa tersebut.          

Gambar Pengelolaan sampah secara mandiri yang dilakukan oleh warga desa Sukunan ini menarik minat peserta studi banding karena ide pengelolaan sampah ini muncul dari salah seorang warga yang kebetulan menjadi dosen lingkungan hidup di salah satu perguruan tinggi di kota Sleman. Keluhan warga mengenai sampah desa yang tidak terurus menjadikan beliau menggandeng donatur untuk mewujudkan pengelolaan sampah terpadu secara mandiri. Dari kesepakatan warga dalam rembuq desa, akhirnya disepakati untuk menerima program pengeloaan sampah mandiri tersebut. Kemudian dilanjutkan dengan sosialisasi kepada warga selama hampir tiga bulan dan pembuatan media tong sampah oleh warga yang tergabung dalam kelompok peduli lingkungan.

Gambar

            Selain pengelolaan sampah, di desa tersebut kini mengelola instalasi pengolah limbah (IPAL) komunal. Limbah jamban rumah tangga yang awalnya dibuang dalam sapit tank pribadi disalurkan dalam saluran IPAL komunal tersebut. hasil dari pengolahan IPAL komunal tersebut berupa air yang sudah tidak tercampur dengan bakteri ecoli tersebut kemudian di alirkan untuk mengairi sawah di desa tersebut. Selain mengelola IPAL komunal yang merupakan bantuan dari Pemerintah Jepang, kelompok peduli lingkungan juga mengelola biogas hasil dari pengelolaan kandang komunal. Biogas tersebut kemudian disalurkan ke unit rumah tangga untuk dijadikan pengganti bahan bakar gas dari pertamina.

Gambar

            Dengan pengelolaan sampah dan limbah yang terpadu ini desa Sukunan menjadi objek wisata lingkungan yang menarik wisatawan domestik maupun manca untuk belajar pengelolaan sampah secara mandiri. (Buono-Mandiri FM, melaporkan)